Selasa, 06 April 2010

menjadi sang pembelajar

ADA kisah menarik. Konon, kucing adalah binatang yang hidup sejaman dengan dinosaurus 75 juta tahun silam, bahkan manusia belum ada kala itu. Secara fisik, tentu kucing tidak sebanding dengan dinosaurus. Dinosaurus memiliki kekuatan dan ketangguhan yang berpotensi melawan keganasan alam dan menaklukkannya. Barangkali ia adalah raja yang menguasai bangsa hewan. Sedang kucing mungkin hanya menjadi rakyat jelata atau paling-paling sekedar bala tentara berpangkat kopral.

Waktu silih berganti, jaman terus berubah, dan keberadaan dinosaurus hanya tinggal cerita. Anehnya, kucing, yang secara fisik lebih lemah dan dianggap tidak ada apa-apanya dibanding dinosaurus, dengan mudah kita dapati hingga saat ini. Kucing ada dimana saja dan bahkan dipelihara dirumah mewah.

Menurut Jansen H. Sinamo dalam bukunya Strategi Adaptif Abad 21: Berselancar di Atas Gelombang Krisis (2000), kucing adalah simbol “binatang pembelajar” sedang dinosaurus tidak. Melalui kecerdasan hewaniahnya, kucing dapat beradaptasi secara kontinyu dengan lingkungan yang terus menerus berubah. Sedangkan dinosaurus, yang hanya berbekal ketangguhan fisik tanpa kecerdasan paripurna terpaksa “dilengserkan” oleh alam.

Manusia memang bukan kucing, karenanya hampir dalam semua hal manusia berbeda dengan kucing. Kecerdasan kucing hanyalah insting hewaniah semata, yang dipergunakan sekedar untuk beradaptasi dengan alam sekitar. Kecerdasan manusia adalah kecerdasan kreatif, bukan sekedar untuk beradaptasi, lebih dari pada itu, kecerdasan manusia berfungsi untuk menaklukkan dan men-create alam.

Namun, dalam beberapa hal, manusia kadang kalah dengan kucing. Kucing, meminjam slogan salah satu kandidat Presiden 2004, “sudah terbukti dan teruji” relevan dengan perubahan. Manusia, dengan segala aspeknya, kerap tidak menemukan relevansinya di jagat semesta.

Musnahnya kerajaan-kerajaan besar di nusantara, semisal Majapahit, adalah contoh bahwa mereka tidak bisa beradaptasi dengan gerak jaman. Lengsernya Suharto dari kursi kekuasaan, karena pemerintahannya tidak relevan dengan arus demokrasi. TVRI sekian lama adalah pemain tunggal di pasar, karena tidak mampu mengantisipasi perkembangan, untuk saat ini TVRI maaf- tidak laku lagi dipasaran. Dalam skala pribadi, tentu kita dapat mengambil banyak contoh tentang manusia-manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan. Dan tentu pula mereka kini musnah tergilas oleh jaman.

Diktum yang menyatakan bahwa ”di dunia ini tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri”, memang benar adanya. Kian hari, perubahan terasa bergerak kian cepat. Apa yang relevan saat ini belum tentu menemukan relevansinya di kemudian hari. Dan apa yang kuat hari ini belum tentu kuat di esok hari.

Dalam kondisi demikian, Kucing telah sukses menjadikan dirinya sebagai “binatang pembelajar”. Maka bagi manusia, mereka harus mampu mewujudkan dirinya menjadi “manusia pembelajar”. Kalau tidak, ya... malu dong!, masak kita kalah sama kucing.

Menjadi Manusia Pembelajar

Menurut Husain Heriyanto, staff pengajar di Islamic Collage for Advent Studies (ICAS) Jakarta, manusia pembelajar adalah manusia yang memandang kegiatan belajar sebagai cara hidup dan cara ber-ada-nya. “Bagi manusia pembelajar, belajar bukanlah beban yang dikenakan terhadap dirinya, namun tugas yang ia emban sebagai manusia. Tugas belajar tidak datang dari luar, namun muncul dari kesadaran dirinya sendiri” tutur Peneliti muda ini.

Apa yang disampaikan Husain Heriyanto senada dengan perintah Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu dari buaian ibu hingga ke liang lahat”, long life learning, dalam bahasa sekarang. Jadi, motto hidup manusia pembelajar adalah “hidup untuk belajar”, bahwa semua aktifitas hidup harus diarahkan kepada kegiatan belajar, kapanpun dan dimanapun.

Tentunya, definisi belajar tersebut bukan sekedar menunjuk pada aktivitas “bersekolah formal”. Belajar lebih dimaksudkan sebagai upaya seseorang, sebagaimana diutarakan Jansen H. Sinamo, untuk memperluas pemahaman dan kesadaran kita tentang diri sendiri (self-awareness), dunia sekitar (cosmo-awareness), kesadaran tentang Sang Pencipta ( Teo-awareness) dan relasi diantara ketiganya (Relationship-awareness) ke tingkat yang lebih dalam dan lebih tinggi.

Dalam konteks ini, belajar bagi manusia pembelajar adalah aktifitas yang bersifat menyeluruh (integralistik) yang tidak bisa dijalankan secara parsial dan terpisah. Antara satu disiplin ilmu jelas berkaitan dengan disiplin ilmu lainnya. Antara satu peristiwa pasti memiliki mata rantai dengan peristiwa yang lain.

Alkisah, suatu hari Rasulullah keluar rumah untuk bepergian. Belum jauh melangkah, kaki beliau terantuk batu yang mengakibatkan putus tali terompahnya. Kejadian sederhana ini membuat Rasulullah tertegun dan merenung, “ kesalahan apa yang telah ku perbuat sehingga Allah memperingatkanku dengan putusnya tali terompah ini?”.

Sungguh, Rasulullah adalah manusia pembelajar. Tidak serta merta, beliau curiga dan menyalahkan seseorang telah menaruh batu di jalanan. Lebih dahulu Rasulullah melihat kedalam diri sendiri, berusaha mengaitkan peristiwa tersebut dengan peristiwa-peristiwa yang lain. Berbagai bencana yang datang bertubi di negeri ini, selain menyalahkan alam, pernahkan kita merenung “ kesalahan apa yang telah kita perbuat, sehingga Allah menurunkan bencana ini?”.

Bagi seorang pembelajar, aktifitas belajarnya harus bersifat makro dan sekaligus mikro, menjadi seorang generalis dan sekaligus menjadi seorang spesialis. Dalam satu sisi, manusia pembelajar harus berusaha memahami beragam disiplin ilmu dan disisi lain mereka dituntut untuk menguasai salah satu disiplin secara mendalam. Dengan pola ini, manusia pembelajar akan mampu memahami kehidupan secara holistik, multidisipliner dan sekaligus tajam dan mendalam.

Agar dapat menjalankan pola belajar tersebut, Taufik Bahaudin dalam bukunya Brainware Leadership Mastery (2001), memberi kiat-kiat siklus belajar seorang pembelajar. Langkah pertama dimulai dengan observe, mengamati dan menyimak. Berusaha mengumpulkan semua aspek tanpa ketergesaan untuk menganalisis atau menilai. Langkah kedua masuk ke perilaku assess, menggali dan menganalisa. Observe untuk menjawab pertanyaan “what ?” maka assess menjawab pertanyaan “why ?”. Dan langkah ketiga adalah design, merancang alternatif respon paling optimal. Dari data dan analisa, setelah diolah akan menghasilkan beragam alternatif pemecahan masalah.

Dan terakhir adalah tahap implementasi. Tahap inilah yang paling penting, tanpa implementasi, keputusan dan kebijakan apapun tidak akan berguna. Siklus belajar ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan berkesinambungan.

Sukses Milik Sang Pembelajar

Sukses meminjam slogan iklan sebuah produk rokok adalah “U are U”. Banyak definisi tentang sukses, tergantung bagaimana cara kita memandang. Namun yang pasti siapapun pasti menginginkan sukses dalam hidupnya, baik sukses sebagai proses maupun sukses sebagai hasil.

Jansen H. Sinamo, Trainer Institute Mahardika, mendefinisikan sukses kedalam tiga kategori. Pertama, Sukses Survivatif. Ini berarti kita survive karena eksistensi kita relevan dengan lingkungan. Kita tidak punah digulung oleh perubahan. Kita bisa babak belur, tetapi tetap eksis, tidak mati. Kedua, Sukses Inovatif, yakni kesuksesan yang diraih karena kemampuan untuk ber-inovasi. Sukses inovatif diperoleh dengan mengerahkan energi kreatif-imajinatif untuk menciptakan hal-hal baru. Dan ketiga, adalah sukses kualitatif. Sukses kualitatif diperoleh setelah melalui tahapan inovatif dan bergerak kearah kualitas mutu atau nilai.

Diluar kategorisasi di atas, ada tingkatan sukses yang lebih tinggi dan bersifat transenden. Yakni, sukses seseorang yang mampu mengemban amanah hidup sebagai khalifah fii al-ardl, sebagai wakil Tuhan di muka bumi, membangun alam dan mencipta peradaban. Tentunya kesuksesan ini hanya milik insan-insan pembelajar sejati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar