Minggu, 25 April 2010

jabatan adalah amanah

Kekuasaan atau jabatan apapun yang kita sandang adalah amanah Allah yang tak bisa kita telantarkan begitu saja. Kadang, sangking besar atau tingginya jabatan kita lupa makna dan hakekatnya. Sehingga kita terkadang bertindak sewenang-wenang, bahkan di luar kewajaran. Tak jarang kita menganggap bawahan kita sebagai 'orang lain', bukannya sebagai partner sejajar yang diharus dihamba Allah-kan juga. Atau bahkan kita menganggapnya lebih rendah. Sungguh celaka bila kita merasa lebih tinggi atau hebat dengan bawahan kita, kalau hanya jabatan kita lebih tinggi. Kita harus ingat, serendah apapun jabatan bawahan kita, mereka adalah hamba-hamaba Allah. Jangan-jangan mereka lebih dari pada kita dihadapan Allah. Karena barang kali dalam bekerja mereka lebih ikhlas dibanding kita, lebih jujur dalam mengambil kebijakan. Atau bahkan mereka para bawahan kita itu lebih sederhana hidupnya. Rasulullah Saw. sendiri dalam kesehariannya, kendati memiliki kedudukan yang agung tak tertandingi -sebagai Nabi dan Rasul-Nya- tak menjadikan sahabatnya atau siapapun, bahkan musuhnya sebagai orang yang lebih rendah. Beliau tahu, bahwa kemuliaan seseorang itu pada nilai taqwanya. Bukan pada atribut duniawi; pangkat, jabatan, prestise atau apaun lainnya. Nabi Muhammad Saw tak pernah membedakan Bilal (sahabat Nabi dari kalangan budak) dengan Abu Bakar al-Shidiq (sahabat Nabi dari kalangan pembesar suku). Tak aneh jika dalam sebuah kesempatan beliau menasehati agar kita dalam melihat sesuatu itu pada nilai taqwanya. Bukan pada bentuk luar atau atribut sosial yang menempel pada diri kita. "Tidaklah seseorang memiliki kelebihan atas orang lain kecuali dengan din (nilai agamanya) dan ketaqwaan. Semua manusia adalah anak cucu Adam. Dan Adam itu diciptakan dari tanah. tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab atasd orang non-Arab, tidak ada keutamaan bagi orang non-Arab atas orang Arab, orang berkulit putih atas orang kulit hitam, dan oarang berkulit hitam atas orang kulit putih kecuali dengan taqwa". Demikian pesan Nabi Saw itu ditulis Imam Ahmad dalam Musnadnya. Karena itu, sebaiknya kita lebih berhati-hati dengan pangkat, jabatan dan apa saja yang melekat pada kita. Boleh jadi tanpa kita sadari semua (pangkat, jabatan, gelar, dll) itu membuat kita terhina dihadapan Allah Sang Pemilik Segalanya. Dalam Al-Qur'an, Allah Swt juga mengingatkan kita agar tidak terjebak pada simbol-simbol dunia. Sebab dunia beserta simbol-simbolnya hanyalah peramainan dan lelucon saja. Jadi tak perlu dimasukkan dalam hati. "Sesunggguhnya kehidupan dunia adalah permainan dan senda-gurau,"seru Allah dalam surat Muhammad. Selanjutnya, terhadap atribut duniawi itu, pertanggungjawabnnya tidak saja selesai di dunia. Karena kalau di dunia bisa dimanipulasi, bisa aas (asal atasan senang). Pertanggungjawaban itu akan diminta lagi oleh Allah di akherat kelak. Tentu tebih berat lagi bagi mereka yang sering mengatasnamakan wakil rakyat dan demi kepentingan rakyat! (Saif Amin)

Siapapun pasti pernah mengalami rasa terpuruk. Tersungkur. Jatuh.Habis-habisan. Merasa sulit untuk bangkit lagi. Cobaan mendera-dera tak berkesudahan. Bumi dan langit semakin sempit. Derai air mata tak sanggup menahan kegundahan, sakit tak terkatakan.Jangan bersedih ! Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Seperti yang Allah wahyukan, pengobat hati yang gundah untuk orang-orang beriman adalah Qur'an-Nya. Maka dengarkanlah ayat-ayatnya dan renungkanlah maknanya. Dengarkanlah, Allah menghibur hamba-hamba-Nya dengan hikmah peristiwa yang menimpa para manusia pilihan-Nya.Ingatlah ketika Rasulullah berdakwah di Thaif agar mereka bertakwa pada Allah sang Pencipta. Bukan ucapan terima kasih yang beliau terima, justru cacian dan cercaan yang diberikan penduduknya.Mereka berani mengusir Rasul mulia itu dengan lemparan batu.Sakit tentu hati beliau. Sedih sudah pasti. Apalagi orang-orang yang dicintai dan membela, Khadijah dan Abu Thalib sudah meninggalkannya. Tapi Rasulullah malah berdoa kelak keturunan penduduk Thaif adalah orang-orang yang bertakwa pada Allah. Buah kesabaran beliau adalah kemenangan dan kejayaan Islam.Kesedihan bagaimanapun akan selalu menjadi bagian dari diri kita. Tapi apa kita harus terus menerus berada dalam kondisi tidak berdaya? Tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut? Sadarlah, kesedihan itu tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi. Kesedihan adalah hal yang manusiawi. Tapi bangkit lagi adalah upaya seorang pahlawan.Sungguh tak ada yang bisa merubah kesedihan dan keterpurukan selain kita sendiri.Bangkitlah. Mulailah hari baru. Tatap matahari esok dengan segala optimisme. Ketahuilah, kesedihan ini akan berlalu seiring waktu. Tapi waktu tidak akan menunggu kita bila kita diam terpekur tak berbuat sesuatu. Bangkitlah, untuk sebuah perubahan yang lebih baik.Hidup yang lebih baik dari hari ini. Jangan kita ditinggal oleh orang-orang yang berlari mengejar masa depannya. Meninggalkan kita dalam lubang keterpurukan yang secara sadar telah kita gali sendir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar