Minggu, 25 April 2010

KRETAMI


KRETAMI adalah KREASI TANGAN FORKPAMI

yaitu salah satu usaha juga yaitu dengan menyediakan berbagai kerajinan tangan

keripik forkapmi


keripik forkapmi adalah sebuah usaha yang dijalani oleh FORKAPMI yaitu dengan penjualan keripik

METEOR (TABLOID)


METEOR (MOESLEM TABLOID ENERGY FOR TEENAGERS)
adalah tabloid yang di keluarkan oleh forkapmi dengan frekuensi terbit yaitu 3 bulan sekali

dan ini adalah tabloid ke 2 yang dikeluarkan oleh FORKAPMI yang sewbelumnya diberi nama BOEMI dan yang ini insya Allah akan terbit pada saat seminar hardiknas yaitu 9 mei 2010

Ikhlas Tempat Persinggahan Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah
Pengantar:Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menyebutkan tempat-tempat persinggahan Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in diantaranya adalah ikhlas. Berikut ini saya kutipkan beberapa penggal alenia yang tercantum dalam pasal ini. Bagi yang menginginkan uraian lebih lanjut saya persilahkan membaca langsung dari sumbernya. (ALS)
Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur'an, (artinya):"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (Al-Bayyinah: 5)"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3)"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2)
Al-Fudhail berkata, "Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar."Orang-orang bertanya, "Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu ?"Dia menjawab, "Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah." Kemudian ia membaca ayat, (artinya): "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110)
Allah juga berfirman, (artinya):"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?" (An-Nisa': 125)Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau.
Allah juga berfirman, (artinya):"Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (Al-Furqan: 23)Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa'ad bin Abi Waqqash, "Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajad dan ketinggian karenanya."
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, (artinya):"Tiga perkara, yang hati orang mukmin tidak akan berkhianat jika ada padanya: Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepada para waliyul-amri dan mengikuti jama'ah orang-orang Muslim karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka." (HR. At-Thirmidzi dan Ahmad)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berperang karena riya', berperang karena keberanian dan berperang karena kesetiaan, manakah diantaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliau menjawab, "Orang yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah.Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tama diperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari' Al-Qur'an, mujahid dan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agar dikatakan, "Fulan adalah qari', fulan adalah pemberani, Fulan adalah orang yang bershadaqah", yang amal-amal mereka tidak ikhlas karena Allah.
Di dalam hadits qudsi yang shahih disebutkan; "Allah berfirman, 'Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku terbebas darinya'." (HR. Muslim)Di dalam hadits lain disebutkan; "Allah berfirman pada hari kiamat, 'Pergilah lalu ambillah pahalamu dari orang yang amalanmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahala di sisi Kami'."
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:"Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian." (HR. Muslim)
Banyak difinisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namun tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya' dan orang yang shidq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar.
Al-Fudhail berkata, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya."Al-Junaid berkata, "Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat sehingga dia menulis-nya, tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya."Yusuf bin Al-Husain berkata. "Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya' dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain."
Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran." Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun."
Dipetik dari: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, "Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in, Edisi Indonesia: Madarijus Salikin Pendakian Menuju Allah." Penerjemah Kathur Suhardi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, Cet. I, 1998, hal. 175 - 178

jabatan adalah amanah

Kekuasaan atau jabatan apapun yang kita sandang adalah amanah Allah yang tak bisa kita telantarkan begitu saja. Kadang, sangking besar atau tingginya jabatan kita lupa makna dan hakekatnya. Sehingga kita terkadang bertindak sewenang-wenang, bahkan di luar kewajaran. Tak jarang kita menganggap bawahan kita sebagai 'orang lain', bukannya sebagai partner sejajar yang diharus dihamba Allah-kan juga. Atau bahkan kita menganggapnya lebih rendah. Sungguh celaka bila kita merasa lebih tinggi atau hebat dengan bawahan kita, kalau hanya jabatan kita lebih tinggi. Kita harus ingat, serendah apapun jabatan bawahan kita, mereka adalah hamba-hamaba Allah. Jangan-jangan mereka lebih dari pada kita dihadapan Allah. Karena barang kali dalam bekerja mereka lebih ikhlas dibanding kita, lebih jujur dalam mengambil kebijakan. Atau bahkan mereka para bawahan kita itu lebih sederhana hidupnya. Rasulullah Saw. sendiri dalam kesehariannya, kendati memiliki kedudukan yang agung tak tertandingi -sebagai Nabi dan Rasul-Nya- tak menjadikan sahabatnya atau siapapun, bahkan musuhnya sebagai orang yang lebih rendah. Beliau tahu, bahwa kemuliaan seseorang itu pada nilai taqwanya. Bukan pada atribut duniawi; pangkat, jabatan, prestise atau apaun lainnya. Nabi Muhammad Saw tak pernah membedakan Bilal (sahabat Nabi dari kalangan budak) dengan Abu Bakar al-Shidiq (sahabat Nabi dari kalangan pembesar suku). Tak aneh jika dalam sebuah kesempatan beliau menasehati agar kita dalam melihat sesuatu itu pada nilai taqwanya. Bukan pada bentuk luar atau atribut sosial yang menempel pada diri kita. "Tidaklah seseorang memiliki kelebihan atas orang lain kecuali dengan din (nilai agamanya) dan ketaqwaan. Semua manusia adalah anak cucu Adam. Dan Adam itu diciptakan dari tanah. tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab atasd orang non-Arab, tidak ada keutamaan bagi orang non-Arab atas orang Arab, orang berkulit putih atas orang kulit hitam, dan oarang berkulit hitam atas orang kulit putih kecuali dengan taqwa". Demikian pesan Nabi Saw itu ditulis Imam Ahmad dalam Musnadnya. Karena itu, sebaiknya kita lebih berhati-hati dengan pangkat, jabatan dan apa saja yang melekat pada kita. Boleh jadi tanpa kita sadari semua (pangkat, jabatan, gelar, dll) itu membuat kita terhina dihadapan Allah Sang Pemilik Segalanya. Dalam Al-Qur'an, Allah Swt juga mengingatkan kita agar tidak terjebak pada simbol-simbol dunia. Sebab dunia beserta simbol-simbolnya hanyalah peramainan dan lelucon saja. Jadi tak perlu dimasukkan dalam hati. "Sesunggguhnya kehidupan dunia adalah permainan dan senda-gurau,"seru Allah dalam surat Muhammad. Selanjutnya, terhadap atribut duniawi itu, pertanggungjawabnnya tidak saja selesai di dunia. Karena kalau di dunia bisa dimanipulasi, bisa aas (asal atasan senang). Pertanggungjawaban itu akan diminta lagi oleh Allah di akherat kelak. Tentu tebih berat lagi bagi mereka yang sering mengatasnamakan wakil rakyat dan demi kepentingan rakyat! (Saif Amin)

Siapapun pasti pernah mengalami rasa terpuruk. Tersungkur. Jatuh.Habis-habisan. Merasa sulit untuk bangkit lagi. Cobaan mendera-dera tak berkesudahan. Bumi dan langit semakin sempit. Derai air mata tak sanggup menahan kegundahan, sakit tak terkatakan.Jangan bersedih ! Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Seperti yang Allah wahyukan, pengobat hati yang gundah untuk orang-orang beriman adalah Qur'an-Nya. Maka dengarkanlah ayat-ayatnya dan renungkanlah maknanya. Dengarkanlah, Allah menghibur hamba-hamba-Nya dengan hikmah peristiwa yang menimpa para manusia pilihan-Nya.Ingatlah ketika Rasulullah berdakwah di Thaif agar mereka bertakwa pada Allah sang Pencipta. Bukan ucapan terima kasih yang beliau terima, justru cacian dan cercaan yang diberikan penduduknya.Mereka berani mengusir Rasul mulia itu dengan lemparan batu.Sakit tentu hati beliau. Sedih sudah pasti. Apalagi orang-orang yang dicintai dan membela, Khadijah dan Abu Thalib sudah meninggalkannya. Tapi Rasulullah malah berdoa kelak keturunan penduduk Thaif adalah orang-orang yang bertakwa pada Allah. Buah kesabaran beliau adalah kemenangan dan kejayaan Islam.Kesedihan bagaimanapun akan selalu menjadi bagian dari diri kita. Tapi apa kita harus terus menerus berada dalam kondisi tidak berdaya? Tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut? Sadarlah, kesedihan itu tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi. Kesedihan adalah hal yang manusiawi. Tapi bangkit lagi adalah upaya seorang pahlawan.Sungguh tak ada yang bisa merubah kesedihan dan keterpurukan selain kita sendiri.Bangkitlah. Mulailah hari baru. Tatap matahari esok dengan segala optimisme. Ketahuilah, kesedihan ini akan berlalu seiring waktu. Tapi waktu tidak akan menunggu kita bila kita diam terpekur tak berbuat sesuatu. Bangkitlah, untuk sebuah perubahan yang lebih baik.Hidup yang lebih baik dari hari ini. Jangan kita ditinggal oleh orang-orang yang berlari mengejar masa depannya. Meninggalkan kita dalam lubang keterpurukan yang secara sadar telah kita gali sendir

Selasa, 06 April 2010

menjadi sang pembelajar

ADA kisah menarik. Konon, kucing adalah binatang yang hidup sejaman dengan dinosaurus 75 juta tahun silam, bahkan manusia belum ada kala itu. Secara fisik, tentu kucing tidak sebanding dengan dinosaurus. Dinosaurus memiliki kekuatan dan ketangguhan yang berpotensi melawan keganasan alam dan menaklukkannya. Barangkali ia adalah raja yang menguasai bangsa hewan. Sedang kucing mungkin hanya menjadi rakyat jelata atau paling-paling sekedar bala tentara berpangkat kopral.

Waktu silih berganti, jaman terus berubah, dan keberadaan dinosaurus hanya tinggal cerita. Anehnya, kucing, yang secara fisik lebih lemah dan dianggap tidak ada apa-apanya dibanding dinosaurus, dengan mudah kita dapati hingga saat ini. Kucing ada dimana saja dan bahkan dipelihara dirumah mewah.

Menurut Jansen H. Sinamo dalam bukunya Strategi Adaptif Abad 21: Berselancar di Atas Gelombang Krisis (2000), kucing adalah simbol “binatang pembelajar” sedang dinosaurus tidak. Melalui kecerdasan hewaniahnya, kucing dapat beradaptasi secara kontinyu dengan lingkungan yang terus menerus berubah. Sedangkan dinosaurus, yang hanya berbekal ketangguhan fisik tanpa kecerdasan paripurna terpaksa “dilengserkan” oleh alam.

Manusia memang bukan kucing, karenanya hampir dalam semua hal manusia berbeda dengan kucing. Kecerdasan kucing hanyalah insting hewaniah semata, yang dipergunakan sekedar untuk beradaptasi dengan alam sekitar. Kecerdasan manusia adalah kecerdasan kreatif, bukan sekedar untuk beradaptasi, lebih dari pada itu, kecerdasan manusia berfungsi untuk menaklukkan dan men-create alam.

Namun, dalam beberapa hal, manusia kadang kalah dengan kucing. Kucing, meminjam slogan salah satu kandidat Presiden 2004, “sudah terbukti dan teruji” relevan dengan perubahan. Manusia, dengan segala aspeknya, kerap tidak menemukan relevansinya di jagat semesta.

Musnahnya kerajaan-kerajaan besar di nusantara, semisal Majapahit, adalah contoh bahwa mereka tidak bisa beradaptasi dengan gerak jaman. Lengsernya Suharto dari kursi kekuasaan, karena pemerintahannya tidak relevan dengan arus demokrasi. TVRI sekian lama adalah pemain tunggal di pasar, karena tidak mampu mengantisipasi perkembangan, untuk saat ini TVRI maaf- tidak laku lagi dipasaran. Dalam skala pribadi, tentu kita dapat mengambil banyak contoh tentang manusia-manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan. Dan tentu pula mereka kini musnah tergilas oleh jaman.

Diktum yang menyatakan bahwa ”di dunia ini tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri”, memang benar adanya. Kian hari, perubahan terasa bergerak kian cepat. Apa yang relevan saat ini belum tentu menemukan relevansinya di kemudian hari. Dan apa yang kuat hari ini belum tentu kuat di esok hari.

Dalam kondisi demikian, Kucing telah sukses menjadikan dirinya sebagai “binatang pembelajar”. Maka bagi manusia, mereka harus mampu mewujudkan dirinya menjadi “manusia pembelajar”. Kalau tidak, ya... malu dong!, masak kita kalah sama kucing.

Menjadi Manusia Pembelajar

Menurut Husain Heriyanto, staff pengajar di Islamic Collage for Advent Studies (ICAS) Jakarta, manusia pembelajar adalah manusia yang memandang kegiatan belajar sebagai cara hidup dan cara ber-ada-nya. “Bagi manusia pembelajar, belajar bukanlah beban yang dikenakan terhadap dirinya, namun tugas yang ia emban sebagai manusia. Tugas belajar tidak datang dari luar, namun muncul dari kesadaran dirinya sendiri” tutur Peneliti muda ini.

Apa yang disampaikan Husain Heriyanto senada dengan perintah Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu dari buaian ibu hingga ke liang lahat”, long life learning, dalam bahasa sekarang. Jadi, motto hidup manusia pembelajar adalah “hidup untuk belajar”, bahwa semua aktifitas hidup harus diarahkan kepada kegiatan belajar, kapanpun dan dimanapun.

Tentunya, definisi belajar tersebut bukan sekedar menunjuk pada aktivitas “bersekolah formal”. Belajar lebih dimaksudkan sebagai upaya seseorang, sebagaimana diutarakan Jansen H. Sinamo, untuk memperluas pemahaman dan kesadaran kita tentang diri sendiri (self-awareness), dunia sekitar (cosmo-awareness), kesadaran tentang Sang Pencipta ( Teo-awareness) dan relasi diantara ketiganya (Relationship-awareness) ke tingkat yang lebih dalam dan lebih tinggi.

Dalam konteks ini, belajar bagi manusia pembelajar adalah aktifitas yang bersifat menyeluruh (integralistik) yang tidak bisa dijalankan secara parsial dan terpisah. Antara satu disiplin ilmu jelas berkaitan dengan disiplin ilmu lainnya. Antara satu peristiwa pasti memiliki mata rantai dengan peristiwa yang lain.

Alkisah, suatu hari Rasulullah keluar rumah untuk bepergian. Belum jauh melangkah, kaki beliau terantuk batu yang mengakibatkan putus tali terompahnya. Kejadian sederhana ini membuat Rasulullah tertegun dan merenung, “ kesalahan apa yang telah ku perbuat sehingga Allah memperingatkanku dengan putusnya tali terompah ini?”.

Sungguh, Rasulullah adalah manusia pembelajar. Tidak serta merta, beliau curiga dan menyalahkan seseorang telah menaruh batu di jalanan. Lebih dahulu Rasulullah melihat kedalam diri sendiri, berusaha mengaitkan peristiwa tersebut dengan peristiwa-peristiwa yang lain. Berbagai bencana yang datang bertubi di negeri ini, selain menyalahkan alam, pernahkan kita merenung “ kesalahan apa yang telah kita perbuat, sehingga Allah menurunkan bencana ini?”.

Bagi seorang pembelajar, aktifitas belajarnya harus bersifat makro dan sekaligus mikro, menjadi seorang generalis dan sekaligus menjadi seorang spesialis. Dalam satu sisi, manusia pembelajar harus berusaha memahami beragam disiplin ilmu dan disisi lain mereka dituntut untuk menguasai salah satu disiplin secara mendalam. Dengan pola ini, manusia pembelajar akan mampu memahami kehidupan secara holistik, multidisipliner dan sekaligus tajam dan mendalam.

Agar dapat menjalankan pola belajar tersebut, Taufik Bahaudin dalam bukunya Brainware Leadership Mastery (2001), memberi kiat-kiat siklus belajar seorang pembelajar. Langkah pertama dimulai dengan observe, mengamati dan menyimak. Berusaha mengumpulkan semua aspek tanpa ketergesaan untuk menganalisis atau menilai. Langkah kedua masuk ke perilaku assess, menggali dan menganalisa. Observe untuk menjawab pertanyaan “what ?” maka assess menjawab pertanyaan “why ?”. Dan langkah ketiga adalah design, merancang alternatif respon paling optimal. Dari data dan analisa, setelah diolah akan menghasilkan beragam alternatif pemecahan masalah.

Dan terakhir adalah tahap implementasi. Tahap inilah yang paling penting, tanpa implementasi, keputusan dan kebijakan apapun tidak akan berguna. Siklus belajar ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan berkesinambungan.

Sukses Milik Sang Pembelajar

Sukses meminjam slogan iklan sebuah produk rokok adalah “U are U”. Banyak definisi tentang sukses, tergantung bagaimana cara kita memandang. Namun yang pasti siapapun pasti menginginkan sukses dalam hidupnya, baik sukses sebagai proses maupun sukses sebagai hasil.

Jansen H. Sinamo, Trainer Institute Mahardika, mendefinisikan sukses kedalam tiga kategori. Pertama, Sukses Survivatif. Ini berarti kita survive karena eksistensi kita relevan dengan lingkungan. Kita tidak punah digulung oleh perubahan. Kita bisa babak belur, tetapi tetap eksis, tidak mati. Kedua, Sukses Inovatif, yakni kesuksesan yang diraih karena kemampuan untuk ber-inovasi. Sukses inovatif diperoleh dengan mengerahkan energi kreatif-imajinatif untuk menciptakan hal-hal baru. Dan ketiga, adalah sukses kualitatif. Sukses kualitatif diperoleh setelah melalui tahapan inovatif dan bergerak kearah kualitas mutu atau nilai.

Diluar kategorisasi di atas, ada tingkatan sukses yang lebih tinggi dan bersifat transenden. Yakni, sukses seseorang yang mampu mengemban amanah hidup sebagai khalifah fii al-ardl, sebagai wakil Tuhan di muka bumi, membangun alam dan mencipta peradaban. Tentunya kesuksesan ini hanya milik insan-insan pembelajar sejati